Selasa, 16 Februari 2016
Jumat, 04 Desember 2015
Sabtu, 21 November 2015
Minggu, 25 Oktober 2015
Renungan Tentang Waktu
- Untuk memahami makna satu tahun, Tanyalah seorang siswa yang gagal dalam ujian kenaikan kelas
- Untuk memahami makna satu bulan, Tanyalah seorang ibu yang melahirkan bayi premature
- Untuk memahami makna satu minggu, Tanyalah buruh mingguan
- Untuk memahami makna satu hari, Tanyalah seorang pekerja dengan upah harian
- Untuk memahami makna satu jam, Tanyalah seorang gadis yang sedang menunggu pacarnya
- Untuk memahami makna satu menit, Tanyalah seseorang yang ketinggalan kereta
- Untuk memahami makna satu detik, Tanyalah seseorang yang selamat dari kecelakaan
- Untuk memahami makna satu mili detik, Tanyalah seorang pelari yang meraih medali perak olimpiade
Sabtu, 24 Oktober 2015
Selasa, 28 Juli 2015
PENERIMAAN
by: Chairil Anwar
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.
Maret 1943
by: Chairil Anwar
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani
Kalau kau mau kuterima kembali
Untukku sendiri tapi
Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.
Maret 1943
Selasa, 07 Juli 2015
Selasa, 19 Mei 2015
Puisi Ibu
by. Chairil Anwar
Pernah aku di tegur
Katanya untuk kebaikan
Pernah aku dimarah
Katanya membaiki kelemahan
Pernah aku diminta membantu
Katanya supaya aku pandai
Katanya untuk kebaikan
Pernah aku dimarah
Katanya membaiki kelemahan
Pernah aku diminta membantu
Katanya supaya aku pandai
Ibu . . . . .
Pernah aku merajuk
Katanya aku manja
Pernah aku melawan
Katanya akudegil
Pernah aku menangis
Katanya aku lemah
Katanya aku manja
Pernah aku melawan
Katanya akudegil
Pernah aku menangis
Katanya aku lemah
Ibu . . . . .
Setiap kali aku tersilap
Dia hukum aku dengan nasihat
Setiap kali aku kecewa
Dia bangun di malam sepi lalu bermunajat
Setiap kali aku dalam kesakitan
Dia ubati dengan penawar dan semangat
dan bila aku mencapai kejayan
Dia kata bersyukurlah pada Tuhan
Dia hukum aku dengan nasihat
Setiap kali aku kecewa
Dia bangun di malam sepi lalu bermunajat
Setiap kali aku dalam kesakitan
Dia ubati dengan penawar dan semangat
dan bila aku mencapai kejayan
Dia kata bersyukurlah pada Tuhan
Namun . . . . .
Tidak pernah aku lihat air mata dukamu
Mengalir di pipimu
Begitu kuatnya dirimu….
Tidak pernah aku lihat air mata dukamu
Mengalir di pipimu
Begitu kuatnya dirimu….
Ibu . . . . .
Aku sayang padamu….Tuhanku….
Aku bermohon padaMu
Sejahterahkanlah dia
Selamanya….
Rabu, 06 Mei 2015
Ibu
by: Kahlil GibranIbu merupakan kata tersejuk yang dilantunkan oleh bibir – bibir manusia.
Dan “Ibuku” merupakan sebutan terindah.
Kata yang semerbak cinta dan impian, manis dan syahdu yang memancar dari kedalaman jiwa.
Ibu adalah segalanya. Ibu adalah penegas kita dilaka lara, impian kta dalam rengsa, rujukan kita di kala nista.
Ibu adalah mata air cinta, kemuliaan, kebahagiaan dan toleransi. Siapa pun yang kehilangan ibinya, ia akan kehilangan sehelai jiwa suci yang senantiasa
merestui dan memberkatinya.
Alam semesta selalu berbincang dalam bahasa ibu. Matahari sebagai ibu bumi yang menyusuinya melalui panasnya.
Matahari tak akan pernah meninggalkan bumi sampai malam merebahkannya dalam lentera ombak, syahdu tembang beburungan dan sesungaian.
Bumi adalah ibu pepohonan dan bebungaan. Bumi menumbuhkan, menjaga dan membesarkannya. Pepohonan
dan bebungaan adalah ibu yang tulus memelihara bebuahan dan bebijian.
Ibu adalah jiwa keabadian bagi semua wujud.
Penuh cinta dan kedamaian.
Selasa, 03 Februari 2015
Kamis, 29 Januari 2015
Puisi Charil Anwar
PENERIMAAN_
Kalau kau mau kuterima kau kembali. Dengan sepenuh hati. Aku masih tetap sendiri. Kutahu kau bukan yang dulu lagi. Bak kembang sari sudah terbagi. Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani. Kalau kau mau kuterima kembali. Untukku sendiri tapi. Sedang dengan cermin aku enggan berbagi.
Maret 1943 (Chairil Anwar)
Langganan:
Postingan (Atom)